Sharing informasi terbaru | 2019
Admin Langit Rezeki | Mei 13, 2019 Beri komentar
Apa Cukup Makan Banyak Protein untuk Bangun Otot

Tentu tidak hanya sekedar memakan makanan mengandung banyak protein. Demi menurunkan persentase lemak tubuh dan membangun otot, kita harus melakukan lebih dari sekadar latihan angkat beban.

Latihan kekuatan penting, namun jika tidak mengisi tubuh dengan benar (tubuh membutuhkan karbohidrat, lemak dan protein), belum tentu akan terjadi transformasi komposisi tubuh yang ideal.

Menurut Direktur Mount Sinai PhysioLab, Avigdor Arad, banyak orang mengklaim dan memiliki asumsi yang salah.

Banyak yang meyakini jika mengonsumsi lebih banyak protein, maka akan terbangun lebih banyak otot.

Anggapan itu, kata Arad, sepenuhnya salah.

"Satu-satunya cara untuk membangun otot adalah jika kamu melakukan latihan ketahanan, jika kamu 'memecah' otot, jika kamu melakukan stres metabolik," kata Arad.

Ia manambahkan, tidak hanya membuat stres metabolik untuk meningkatkan massa otot, kita juga harus memikirkan surplus kalori.

Masih bingung menentukannya?

Pertama, hal yang harus kamu lakukan adalah mengetahui berat badanmu dalam satuan pon.

Kemudian, tentukan tujuanmu: penurunan berat badan, mempertahankan berat badan, atau peningkatan berat badan.

Dari sana, lakukan penyesuaikan tingkat aktivitas terhadap target yang telah ditentukan.

Tahap akhirnya adalah mengalikan berat badan dengan dua angka sesuai tingkat aktivitasmu.

Jika level aktivitas fisikmu rendah, kalikan dengan angka 10-12 (jika targetnya penurunan berat badan).

Atau kalikan dengan 14-16 (jika targetnya mempertahankan berat badan), dan 16-18 (jika targetnya menaikkan berat badan).

Sementara, jika aktivitas fisikmu moderat atau sekitar 3-4 kali olahraga seminggu, maka kalikanlah dengan 14-16 (jika targetnya penurunan berat badan).

Atau, kalikan dengan 14-16 (jika targetnya mempertahankan berat badan), dan 18-20 (jika targetnya menaikkan berat badan).

Kemudian, jika aktivitas fisikmu tinggi (olahraga 5-7 kali seminggu), maka kalikanlah dengan 14-16 (jika targetnya penurunan berat badan).

Kalikan 16-18 (jika targetnya mempertahankan berat badan), dan 20-22 (jika targetnya menaikkan berat badan).

Sebagai contoh, berat badanmu 137 pon, kamu ingin menjaga berat badan dan kamu sendiri memiliki tingkat aktivitas moderat.

Maka, kamu perlu mengalikan 137x12 dan 137x14.

Dari sana, kamu mendapatkan angka asupan kalori harian sebesar 1.644 dan 1.918. 

Menurut Arad, makan lebih banyak protein akan menjaga tubuh  tetap kenyang dan meningkatkan metabolisne. Namun, itu saja tidak cukup.

Untuk membangun otot, Arad menyarankan konsumsi 1,2-1,5 gram protein per pon berat badan, dan jangan lebih dari 1,8 gram protein per pon berat badan.

Selain itu, juga disarankan untuk mengonsumsi kalori dan gula (bisa dimaksud dalam bentuk karbohidrat) dalam jumlah yang cukup, atau protein yang dikonsumsi akan digunakan untuk keperluan lain.

Dalam wawancara lainnya di laman PopSugar, Ahli gizi teregistrasi Jim White menyarankan kita untuk mulai melakukan pembagian makronutrien.

Komposisinya adalah 55 persen karbohidrat, 25 persen protein, dan 20 persen lemak untuk membentuk otot.
Admin Langit Rezeki , | April 08, 2019 Beri komentar
Pengaruh Diet Tinggi Protein pada Tubuh

Ada ragam jenis diet sekarang ini yang pada dasarnya untuk menurunkan berat badan dan mendapatkan badan ideal.

Kita sering sekali mendengar anjuran untuk mengurangi asupan karbohidrat, terutama karbohidrat sederhana, demi pola hidup sehat.

Begitu juga dengan lemak. Kita sering disarankan untuk memprioritaskan konsumsi lemak sehat.

Namun, bagaimana dengan protein?

Sejumlah peneliti di Australia Selatan mengklaim telah mendapatkan kunci mengapa diet tinggi protein tidak sehat dan bisa mengurangi usia.

Para peneliti menggunakan cacing dan lalat buah untuk menginvestigasi bagaimana diet berperan dalam kecepatan sintesis protein.

Hasilnya, percepatan sintesis protein akan memproduksi lebih banyak kerusakan dalam tubuh, dan berkaitan dengan usia yang lebih pendek.

Penemuan dari sejumlah ilmuwan di South Australian Health & Medical Research Institute (SAHMRI) mendukung hasil tersebut.

Penelitian SAHMRI menyampaikan, karbohidrat tidak selalu menjadi sumber makanan yang jahat.

Dalam penelitian mereka teridentifikasi bagaimana nutrisi mampu membantu memperpanjang usia.

Hal ini diungkapkan salah satu penulis studi dan pimpinan bidang gizi dan metabolisme di SAHMRI, Profesor Christopher Proud.

Proud menyebut, sains sudah memberi alasan sejak lama bahwa makan terlalu banyak, khususnya protein, bisa mengurangi harapan hidup seseorang.

Tim mereka mendemonstrasikan, peningkatan level nutrisi mempercepat sintesis protein dalam sel.

Semakin cepat proses ini terjadi, maka akan semakin banyak kerusakan yang dibuat.

"Sama seperti aktivitas harian, seperti berkendara. Semakin kencang kamu berkendara, semakin tinggi kecenderungan kamu membuat kesalahan," kata Proud.

Hasil dari penumpukan protein yang salah dalam sel akan memengaruhi kondisi kesehatan, bahkan memperpendek waktu hidup.

Riset yang telah dipublikasikan di Current Biology ini juga memperkuat hubungan antara diet rendah protein, tinggi karbohidrat, dan masa hidup yang lebih sehat.

Hal ini terutama berkaitan dengan kesehatan otak.

Karbohidrat, kata Proud, sering dicap sebagai sumber yang buruk, terutama jika dikaitkan dengan diet.

Namun, kuncinya sebetulnya adalah keseimbangan dan mengetahui perbedaan antara karbohidrat baik dan buruk.

Konsumsi karbohidrat tinggi serat seperti buah, sayur-sayuran, dan biji-bijian utuh justru dapat memberikan manfaat kesehatan.

Sama seperti diet mediterania tradisional yang kerap dikaitkan dengan panjangnya usia.

"Kita semua sudah mengetahui bahwa membatasi asupan makanan dapat memperpanjang usia," ujar dia.
Admin Langit Rezeki , | Maret 11, 2019 Beri komentar
Betulkah Orang dengan Tekanan Darah Tinggi Mudah Marah?

Seperti sudah banyak orang yang menyebutkan seorang dengan tekanan darah tinggi itu gampang marah.

Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah gangguan kesehatan yang tidak dapat disembuhkan, tapi bisa dikendalikan. Maka dari itu, bagi mereka yang punya tekanan darah tinggi sebaiknya dikendalikan.

Banyak juga yang bilang kalau orang yang punya tekanan darah tinggi itu suka marah dan emosinya tidak stabil. Begitu juga sebaliknya, cepat marah bisa bikin tekanan darah naik. Apa benar begitu?

Mungkin ketika kamu sedang marah atau kesal, orang-orang akan bertanya, apakah tekanan darah tinggimu sedang kambuh saat itu. Ya, tekanan darah tinggi kerap kali dikaitkan dengan perubahan mood yang tiba-tiba dan peningkatan emosi.

Sebenarnya, anggapan banyak orang tentang hal ini tidak sepenuhnya salah. Ternyata memang, tekanan darah tinggi atau hipertensi berhubungan dengan perubahan suasana hati, membuat kita lebih mudah marah daripada sebelumnya.

Hal ini bahkan telah dibuktikan dalam beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa orang yang hipertensi cenderung cepat marah dan mudah berubah mood-nya.

Kenapa orang yang punya tekanan darah tinggi gampang marah?

Para ahli belum mengetahui secara pasti apa penyebab di balik suasana hati yang mudah berubah pada orang dengan hipertensi. Namun, ada beberapa teori yang disebutkan, yaitu:

1. Tidak bisa mengendalikan stres dengan baik
Meskipun belum dipastikan merupakan penyebab mengapa orang dengan darah tinggi mudah marah, tapi para ahli menyatakan bahwa orang dengan tekanan darah yang tinggi cenderung tidak dapat mengendalikan rangsangan stres dengan baik. Hal ini membuat otak mengeluarkan amarah sebagai responnya.

Namun, hubungan stres dan hipertensi masih harus diteliti lebih lanjut, bagaimana tekanan darah tinggi bisa mengganggu respon otak dalam mengendalikan emosi.

2. Ada pengaruh dari obat hipertensi
Orang yang hipertensi, biasanya akan mendapatkan obat minum yang ditujukan untuk membantu menjaga tekanan darah tetap normal.

Dalam beberapa riset memang disebutkan bahwa obat yang dikonsumsi orang yang hipertensi, akan menimbulkan efek samping pada mood. Hal ini dibenarkan oleh penelitian yang diterbitkan dalam Hypertension Journal Report.

Penelitian ini menyebutkan bahwa obat-obat tersebut dapat mengganggu kerja otak dalam mengelola stres dan emosi. Dalam riset ini, diketahui bahwa obat-obatan yang dapat menimbulkan perubahan mood pada orang yang hipertensi adalah:

Obat beta-blocker dan calcium antagonist, obat ini digunakan untuk menghindari kerusakan fungsi jantung yang biasanya terjadi pada orang dengan tekanan darah tinggi.

Obat diuretik, khususnya thiazide, yang digunakan untuk mencegah penumpukan cairan pada orang yang hipertensi.

Lantas, apakah semua orang yang punya tekanan darah tinggi pasti mudah marah?

Tentu, ini bukan hal yang pasti terjadi. Tak semua orang yang tekanan darahnya naik akan mudah marah dan memiliki emosi yang tidak stabil. Semua tergantung bagaimana kita mengelola emosi dan stres.

Ingin melatih diri agar bisa mengendalikan amarah? Kamu bisa mengikuti beberapa tips berikut:

Luapkan kemarahan setelah menenangkan diri
Bila tahu bahwa kamu akan meledak dalam amarah, sebaiknya tahan diri dengan cara mencari tempat sepi di mana kamu bisa menyendiri.

Kamu bisa mengekspresikan kemarahan ketika sudah mulai tenang, misalnya dengan cara curhat ke orang terdekat. Namun, jangan ketika emosi masih meluap-luap.

Berpikir dulu sebelum bicara
Saat dilanda kemarahan, kamu mungkin mudah sekali mengatakan hal-hal yang menyakitkan tanpa memikirkan konsekuensinya. Hal yang kerap kali bikin masalah tambah panjang, bukannya menyelesaikan masalah.

Ingat, bisa saja apa yang kamu katakan ketika emosi, akan berbalik dan menjadi bumerang.

Cari tahu apa yang sebenarnya membuat marah
Pahami dan kenali diri lebih dalam. Cari tahu situasi apa yang akan membuat kamu marah, dengan begini kamu bisa mengelola amarah.

Ketika tenang kamu bisa menilai lagi, apakah penyebab kemarahan itu wajar atau tidak. Bila memang kamu marah tanpa sebab yang signifikan, sebaiknya konsultasikan dengan dokter.

Berlatih relaksasi
Relaksasi dapat membantu mengendalikan diri dari amarah. Mulai sekarang, cobalah untuk berlatih berelaksasi dan menenangkan diri.

Setiap orang punya cara yang berbeda-beda. Misalnya dengan menarik napas dalam, mendengarkan lagu, atau menggambar. Hal ini pasti berguna dalam kondisi dan situasi apa pun, termasuk ketika sedang marah.
Admin Langit Rezeki , | Februari 11, 2019 Beri komentar
Mitos dan Fakta Tentang Orang Kidal yang Harus Kamu Ketahui

Mungkin kamu pernah mendengar tentang mitos kelebihan orang yang cenderung lebih lihai menggunakan tangan atau kaki kirinya atau biasa disebut kidal. Namun, harus kamu pastikan dengan mendengar fakta yang terjadi di artikel ini.

Jumlah orang kidal hanya sekitar 10 persen dari populasi. Ada banyak mitos mengenai orang kidal namun belum banyak penelitian yang membuktikan kebenarannya.

Berikut adalah beberapa mitos dan fakta tentang orang kidal.

Mitos: Orang kidal lebih kreatif
    
Ada beberapa kesamaan yang dimiliki oleh orang-orang kreatif, dan menjadi kidal bukanlah satu-satunya. Keterkaitan antara orang kidal dan kreatifitas adalah mitos yang sudah berlangsung sangat lama.

Studi yang dilakukan tahun 1995 menemukan bahwa pria kidal cenderung berpikir kreatif dalam penyelesaikan masalah. Namun, tidak ada perbedaan antara perempuan kidal dan yang tidak terhadap kreativitas.
    
“Ketika kamu melihat pencapaian kreatif di dalam hidup seseorang, tidak cukup kuat jika hanya dikaitkan dengan kidal,” kata Ronald Yeo, profesor di Universitas Texas di Austin.

Mitos: Orang kidal cenderung menjadi pemimpin
    
Enam dari dua belas presiden Amerika Serikat kerakhir adalah orang kidal. Namun, menjadi kidal bukanlah sebuah kualifikasi untuk menjadi pemimpin, apalagi presiden. Tidak ada bukti kuat secara ilmiah yang mampu mengaitkannya dengan kemampuan mempimpin.

Mitos: Orang kidal lebih cerdas
    
Sebuah penelitian pada tahun 70-an meneliti lebih dari 7.000 anak sekolah dasar. Hasilnya, tidak ditemukan perbedaan dalam kemampuan intelektual antara mereka yang kidal dan yang tidak.
    
Namun orang kidal mungkin berpikir hal yang berbeda.

“Dunia ini bukan tempat yang ramah untuk orang yang kidal. Beberapa peralatan sehari-hari didesain untuk orang yang menggunakan tangan kanan. Orang kidal harus berpikir fleksibel dan menemukan cara terbaik untuk menggunakan alat tersebut,” kata psikolog Elizabeth Ochoa.
    
Mitos: Orang kidal introvert
    
Pengetahuan umum lainnya adalah orang kidal cenderung lebih introvert dari yang lainnnya. Namun, studi yang dilakukan pada 2013 membuktikan bahwa tidak ada perbedaan antara lima kepribadian yang diuji bagi pengguna tangan kanan dan tangan kiri. 
    
“Streotip bahwa orang kidal lebih introvert tidak terbukti” kata Gina Grimshaw dari Universitas Wellington, Selandia Baru.

Mitos: Orang kidal lebih sering menggunakan otak kanan
    
Karena kebanyakan orang yang tidak kidal menggunakan otak  kirinya untuk  memproses bahasa, itu berarti orang kidal berpikir menggunakan otak kanannya bukan? Belum tentu.
Gina menemukan bahwa 98 persen orang yang tidak kidal berotak kiri, demikian juga 70 persen orang kidal. 
“Sebagian besar, orang kidal tidak jauh berbeda dengan orang yang tidak kidal. Mereka tentu tidak memiliki otak yang terbalik” kata Gina.

Fakta: Orang kidal mungkin lebih mempunyai banyak masalah tidur
    
Sebuah penelitian dari jurnal Chest memantau gerakan anggota badan berirama antara orang kidal dan tidak saat tidur. 
    
Hasilnya, 94 persen orang kidal tidur dengan gangguan gerakan tungkai periodik. Sedangkan hanya 69 persen dari orang yang tidak kidal yang mengalami ganggunan gerakan tungkai periodik.
    
Fakta: Orang kidal berpeluang lebih besar mengalami gangguan kesehatan mental

Penelitian dari Universitas Yale menyimpulkan bahwa orang yang menderita penyakit mental berat seperti skinzofrenia lebih berpotensi diderita oleh orang kidal dibanding dengan gangguan mood seperti bipolar.

Kesimpulan itu dihasilkan dari penelitian terhadap kelompok kecil dari klinik psikiatri rawat jalan dan menemukan bahwa 40 persen dari mereka yang menderita skizofrenia adalah orang kidal.

Para peneliti tertarik untuk mengetahui lebih lanjut hubungan antara karakteristik psikosis (seperti hasulisinasi) dan kidal. Mereka percaya jawabannya terletak pada bagian otak yang cenderung lebih banyak digunakan.
Admin Langit Rezeki , | Januari 14, 2019 Beri komentar
Segera Obati Batuk Anda, Jangan Biarkan Berkepanjangan

Batuk mungkin di anggap hal yang biasa oleh beberapa orang jika memang sekali-sekali saja terjadinya. Namun, jika batuk yang kamu alami itu lama dan tidak sembuh dengan minum obat atau ramu herbal, segera lakukan pengobatan serius.

Batuk menjadi salah satu penyakit paling umum yang terjadi pada musim pancaroba seperti saat sekarang.

Namun sayangnya, tak sedikit orang yang menyepelekannya. Padahal, batuk yang dibiarkan berkepanjangan bisa memunculkan penyakit serius.

Sebutlah sesak nafas, infeksi saluran pernafasan atas (ISPA), pneumonia, tuberkulosis (TBC), dan radang paru-paru, adalah penyakit yang ditandai dengan batuk.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan RI, Wiendra Waworuntu mengingatkan agar masyarakat langsung mencari penanganan ketika terserang batuk.

“ISPA sering disebut ringan, tapi kalau tidak dicegah dari awal bisa berbahaya. Maka dari awal harus minum obat batuk.”

Dia mengatakan, ketika terserang batuk, masyarakat diperbolehkan untuk mengonsumsi obat tanpa resep yang banyak beredar di pasaran.

Namun, Wiendra mengingatkan agar masyarakat tak sembarang menggunakan obat antibiotik untuk mengatasi batuk.

Sebab, penggunaan antibiotik yang tidak tepat bisa menyebabkan resistensi antibiotik. Akibatnya, bakteri dalam tubuh tidak lagi bisa diatasi dengan obat tersebut.

“Harus dengan resep yang dikeluarkan dokter,” tutur dia.

Hal senada disampaikan Sanofi Medical Expert Riana Nirmala Wijaya. Menurut dia, komplikasi penyakit yang sudah berat bisa menyebabkan kematian.

Tak hanya itu, ada pula komplikasi psikologis yang mungkin dialami. Sebab, banyak orang yang mengalami batuk justru dijauhi oleh lingkungan sekitar.

“Ada survei mengatakan, pasien bisa mengalami penurunan mood, minder, (karena) jika bertemu orang ingin menjauh karena takut menularkan, keluarganya juga menjauh, mereka membatasi aktivitas sosial,” kata Riana.

Waktu terbaik pergi ke dokter

Jika batuk memang tidak bisa disepelekan dan perlu ditangani, kapan sebaiknya kita pergi ke dokter?

Wiendra menyebutkan, jika batuk sudah lebih dari dua minggu dan disertai gejala-gejala lainnya, maka perlu memeriksakan diri ke dokter.

Beberapa gejala yang dimaksud di antaranya demam, hingga penurunan daya tahan dan berat badan.

“Kalau (batuk) tiga hari saja saya kira masih aman minum obat yang tidak mengandung antibiotik,” kata Wiendra.